Di mana buku itu? aku mencarinya di setiap sudut kamarku tetapi tidak pernah aku temui. Siang ini aku letih keterlaluan, di sudut bibirku ada sedikit bercak merah karena terus aku gores dengan kukuku yang belum aku potong minggu ini. Dikeramaian yang ada aku selalu merasa segala ruang hampa, menikam aku dan membuang aku dari kehangatan Kota yang tidak ingin aku tinggalkan. Barangkali ada tempat yang ramah untuk menampung semua keluh dan sedihku itu adalah temanku. Di tempat yang jauh aku bisa merasakan rumah yang benar-benar bisa jadi tempat aku pulang. kehilangan rumah bukan keinginan semua orang, satu cara yang bisa aku lakukan hanyalah menutup mata dan membiarkan semua menari seenaknya dikepalaku.
Tidak ada tempat yang lebih baik untuk aku menunjukkan perasaan kecuali pada seorang laki-laki yang aku kenal. punggung yang bisa aku lihat disepanjang perjalanan yang belum selesai. Aku ingin itu benar, walau aku tidak tau apa yang selanjutnya dia pikirkan.
Hari setelah pulang sekolah, aku mengamati lama bangku itu, di dalam kelas lemon kita. Bangku yang penghuninya sudah pulang bersama seorang teman yang dulu sangat akrab denganku. Aku bingung bagaimana caranya agar suatu hubungan yang sudah lama retak bisa pulih kembali. Hari demi hari aku menghitung dan bertambah pula rasa bersalahku saat aku menatap laki-laki itu. Matanya selalu membuatku merasa gugup dan sedih, bagaimana tidak, dia seorang bagian dari teman akrabku yang sudah tidak aku sapa.
Ini adalah bagian perjalanan, hari-hari sekolahku yang sangat berat dan menyenangkan di bangku SMP. Aku bertemu orang-orang baik yang mau menerima semua kekurangan dan kelebihanku, belajar memahami kehilangan dan menemukan kembali, bertemu seorang laki-laki yang bertahun-tahun namanya aku istimewakan dan kenangan-kenangan yang tidak bisa lagi aku ulang. Tapi kami selalu ingat dan bersama walaupun jarang. Kami menyempatkan diri untuk merawat hubungan pertemanan, karena mereka adalah orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku.
Mari kita lebih sering bertemu dan bercerita banyak hal hingga tua, hingga satu-persatu dari kita menikah dan memiliki keluarga baru. Hidup yang terus berjalan harus terus berjalan baik untuk mereka semua, jangan seperti aku.