RUANG BIRU GITA
Bagian Perjalanan Yang Takut Hilang
Kelelahan
Coba bayangkan, bagaimana jika akhirnya kita berpisah?
Apa yang akan kamu rasakan dan apa yang akan aku rasakan. Jangan tanyakan itu padaku, karena jawabannya kamu pasti akan tahu. Tentu saja aku akan sangat sedih dengan semua yang sudah-sudah. Dengan semua yang aku lewati sendirian ataupun bersama.
Suatu hari aku teringat hal itu kembali. Bertanya pada diriku sendiri yang sedang terjaga, 'mengapa?' gumamku. Tidak ada jawaban pasti yang aku temui hari itu. Hanya ada di kamu yang saat itu sedang mencoba menyeberangi pulau mimpi yang seakan jadi kenyataan. Aku tersentak mengingat itu. Perlahan aku usap dahiku yang penuh keringat, bercermin dan menemui sosokku ternyata tidak terlalu meyakinkan.
Saat ini kesepian terdengar nyaring ditelingaku. Di sebuah kotak kecil putih aku memutari dengan mencoret-coret kanvas kecil, berharap ada tumpahan warna yang cocok denganmu. Aku kembali teringat di ruangan itu, menyusup seperti seorang penjahat, aku hampir enggan bersumpah dan merasa bersalah. Saat inilah aku merasa bersalah sekaligus sedih karena aku sudah tahu apa yang tidak bisa kamu katakan padaku. Entah maksudmu agar aku tidak sedih atau aku memang diharuskan tidak tahu kebenarannya.
Hatiku bergejolak dan enggan mengatakan ini sebuah kesedihan. Sedikit menyakiti dibalik bisikan-bisikan saat aku terjaga. Aku menerimanya, tetap menerimamu sebagai obat agar aku tidak merasa kesepian di sini karena kamu salah satu hal berharga, namun rasanya sudah seperti kehilangan kamu yang berarti dihidupku.
Bisakah kamu jujur saat ini? Karena mungkin aku akan kelelahan menahan perasaan ini.
Dia Lupa Bahwa Dia Juga Menunggu
Aku melihat sosok lelaki tua sendirian duduk termenung di pinggir jalan raya. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya sendu. Kulit matanya keriput dengan kantong mata yang sangat terlihat lelah. Dia memasukkan telapak tangan dikedua saku celana kain hitam, lalu menghela nafas panjang sembari menghitung lalu-lalang kendaraan. Matanya jelas menampilkan kecemasan dan rasa lelah, dia tetap menunggu sesuatu yang dia tunggu. Dia mulai merasa tubuhnya amat lelah, dia beranjak dari tempatnya dan mencari bangku panjang untuk merebahkan tubuh rapuhnya. Beberapa menit kemudian bus berhenti, sosok wanita tua membawa seikat bunga berwarna putih hendak turun dari pintu bus yang sudah terbuka lebar.
Aku tidak tau bungan apa yang
dia bawa. Wanita tua itu terus melaju dengan langkah kecil seperti anak usia
balita. Perlahan dia mendekat kepada lelaki tua yang merebahkan setengah
bahunya di bangku taman. Wanita itu mengelus pundak dengan berucap ‘jika lelah
mari pulang, aku akan menuangkan secangkir kopi dan mendengarkan musik hingga usai’.
Lelaki tua itu menegakkan tubuh dan menatap dengan sebulir air hampir jatuh
dari pelipisnya yang keriput.
Dilain sisi adalah aku.
Seorang lelaki setengah dewasa yang terus mencoba untuk ceria di hadapan banyak
orang yang melintasiku, berpapasan denganku dan bahkan beberapa menyapaku. Kamu
tidak akan pernah tau lagi apa yang selama ini aku rasakan, jadi mari kita
selesaikan sedikit part dalam hidupku. Bacalah atau mungkin dengarkan ini walau
aku tau kamu tidak akan lagi bisa melakukan itu. Biarkan angis berhembus
membawa ceritaku kepadamu jauh di sana.
Aku tinggal dengan seorang
teman lamaku yang rumahnya cukup dekat denganku. Dia selalu mengatakan bahwa
namanya adalah ‘Kesepian’, tapi dia tidak pernah mau dipanggil Kesepian jika
bersama denganku. Usia kita hampir sama, hanya berbeda jarak tiga bulan lebih
awal temanku ini lahir. Kita bukanlah teman yang setiap harinya selalu bersama,
kita memilih untuk berjalan saling berlawanan arah. Letak rumah, tempat
sekolah, tempat mengaji dan masih banyak lagi hal yang saling berlawanan arah.
Tapi kita punya tempat yang selalu jadi tujuan bersama untuk menceritakan
perjalanan sehari-hari setelah melewati hari lelah dalam seminggu. Iya. Lapangan
sepeda yang kita buat sendiri atas izin mendiang nenekku.
Setiap satu bulan sekali aku
pulang ke halaman rumah masa kecilku, mengingat kembali kejadian-kejadian lucu
yang pernah aku dan temanku lakukan setiap seminggu sekali. Baru saja tadi aku
berkunjung ke halaman rumahku dan sekarang aku berada diperjalanan pulang ke rumah
dewasaku. Rumah dengan banyak sekali problematika, kelelahan, kesedihan,
kerinduan dan kesepian. Rasanya aku masih ingin berlama-lama di sini, walaupun ada
yang sudah hilang di sini. Sesuatu yang seharusnya bersamaku dan tidak
berlawanan arah lagi. Tentu saja kenangan tentang perasaan yang tidak pernah
usai. Kini yang bernama ‘Kesepian’ bukan lagi kamu, tapi diriku sendiri. Kalau
kamu di sini, kamu pasti akan tertawa melihat aku seringkali menangis diam
seperti ini. Cengeng. Tapi, memang seperti inilah keadaanku yang sudah
sepenuhnya dewasa dan kamu dengan cepatnya meninggalkan aku sendiri
dipermainkan rintik hujan.
Bulir hujan semakin lama
semakin membesar dan terasa sakit saat jatuh mengeroyok kepala dan kulit tubuh.
Aku masih di sini, dihalte bus yang atapnya rusak. Orang-orang tidak sudi
berada duduk di halte yang aku tempati, mereka terlalu membenci hujan rupanya.
Lagi-lagi kalau kamu di sini pasti akan sangat sedih, bukan karena atap halte
jebol, tapi karena orang-orang menjauhiku tanpa mengajakku berteduh di halte
sebelah yang atapnya normal. Ahh, rasanya aku ingin pulang lagi di tahun-tahun
kita bertemu. Aku sadar hidup akan terus berputar, aku yang akan semakin dewasa
dengan masalah-masalah yang harus aku hadapi dan tidak terus-meneruh menyesali
apa yang sudah terjadi. Kamu pernah mengatakan bahwa aku anak yang permberani
dan hebat, kamu juga terus-menerus memberikan sebuah dukungan saat aku mulai
putus asa.
Baiklah, selesai sudah part
kecil perjalananku dengan temanku. Aku kembali tersadar dengan sosok bahagia
dihadapanku saat ini. di halte bus yang aku tunggu kedatangan supir bus beserta
penumpangnya.
Kedua langkah itu menyusuri
jalan membelah hujan yang sudah semakin deras di malam yang hampir sirna
berganti terang. Katanya, ’masuk akal kah kita memulai segalanya tanpa harus
merasa fana?’. Aku melihat semuanya dengan kesendirian. Aku lupa jika aku juga
sedang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Aku menatapi hujan,
menyesali langkah panjang dan menunggu tanpa arti. Aku membuang segala jenis
lara dan tersenyum melanjutkan langkah pulang dan menaiki bus yang sudah lama
berhenti.
Kota ini semestinya hilang
dari semua yang pernah aku rasakan. Sudah seharusnya aku sadar bahwa yang aku
tunggu semestinya diikhlaskan. Aku bahagia, kita pernah bahagia. Aku janji, aku
akan menyambutmu lagi dengan bunga favorit disamping gundukan rumputmu dan
bercerita banyak hal.