Dia Lupa Bahwa Dia Juga Menunggu

Aku melihat sosok lelaki tua sendirian duduk termenung di pinggir jalan raya. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya sendu. Kulit matanya keriput dengan kantong mata yang sangat terlihat lelah. Dia memasukkan telapak tangan dikedua saku celana kain hitam, lalu menghela nafas panjang sembari menghitung lalu-lalang kendaraan. Matanya jelas menampilkan kecemasan dan rasa lelah, dia tetap menunggu sesuatu yang dia tunggu. Dia mulai merasa tubuhnya amat lelah, dia beranjak dari tempatnya dan mencari bangku panjang untuk merebahkan tubuh rapuhnya. Beberapa menit kemudian bus berhenti, sosok wanita tua membawa seikat bunga berwarna putih hendak turun dari pintu bus yang sudah terbuka lebar.

Aku tidak tau bungan apa yang dia bawa. Wanita tua itu terus melaju dengan langkah kecil seperti anak usia balita. Perlahan dia mendekat kepada lelaki tua yang merebahkan setengah bahunya di bangku taman. Wanita itu mengelus pundak dengan berucap ‘jika lelah mari pulang, aku akan menuangkan secangkir kopi dan mendengarkan musik hingga usai’. Lelaki tua itu menegakkan tubuh dan menatap dengan sebulir air hampir jatuh dari pelipisnya yang keriput.

Dilain sisi adalah aku. Seorang lelaki setengah dewasa yang terus mencoba untuk ceria di hadapan banyak orang yang melintasiku, berpapasan denganku dan bahkan beberapa menyapaku. Kamu tidak akan pernah tau lagi apa yang selama ini aku rasakan, jadi mari kita selesaikan sedikit part dalam hidupku. Bacalah atau mungkin dengarkan ini walau aku tau kamu tidak akan lagi bisa melakukan itu. Biarkan angis berhembus membawa ceritaku kepadamu jauh di sana.

Aku tinggal dengan seorang teman lamaku yang rumahnya cukup dekat denganku. Dia selalu mengatakan bahwa namanya adalah ‘Kesepian’, tapi dia tidak pernah mau dipanggil Kesepian jika bersama denganku. Usia kita hampir sama, hanya berbeda jarak tiga bulan lebih awal temanku ini lahir. Kita bukanlah teman yang setiap harinya selalu bersama, kita memilih untuk berjalan saling berlawanan arah. Letak rumah, tempat sekolah, tempat mengaji dan masih banyak lagi hal yang saling berlawanan arah. Tapi kita punya tempat yang selalu jadi tujuan bersama untuk menceritakan perjalanan sehari-hari setelah melewati hari lelah dalam seminggu. Iya. Lapangan sepeda yang kita buat sendiri atas izin mendiang nenekku.

Setiap satu bulan sekali aku pulang ke halaman rumah masa kecilku, mengingat kembali kejadian-kejadian lucu yang pernah aku dan temanku lakukan setiap seminggu sekali. Baru saja tadi aku berkunjung ke halaman rumahku dan sekarang aku berada diperjalanan pulang ke rumah dewasaku. Rumah dengan banyak sekali problematika, kelelahan, kesedihan, kerinduan dan kesepian. Rasanya aku masih ingin berlama-lama di sini, walaupun ada yang sudah hilang di sini. Sesuatu yang seharusnya bersamaku dan tidak berlawanan arah lagi. Tentu saja kenangan tentang perasaan yang tidak pernah usai. Kini yang bernama ‘Kesepian’ bukan lagi kamu, tapi diriku sendiri. Kalau kamu di sini, kamu pasti akan tertawa melihat aku seringkali menangis diam seperti ini. Cengeng. Tapi, memang seperti inilah keadaanku yang sudah sepenuhnya dewasa dan kamu dengan cepatnya meninggalkan aku sendiri dipermainkan rintik hujan.

Bulir hujan semakin lama semakin membesar dan terasa sakit saat jatuh mengeroyok kepala dan kulit tubuh. Aku masih di sini, dihalte bus yang atapnya rusak. Orang-orang tidak sudi berada duduk di halte yang aku tempati, mereka terlalu membenci hujan rupanya. Lagi-lagi kalau kamu di sini pasti akan sangat sedih, bukan karena atap halte jebol, tapi karena orang-orang menjauhiku tanpa mengajakku berteduh di halte sebelah yang atapnya normal. Ahh, rasanya aku ingin pulang lagi di tahun-tahun kita bertemu. Aku sadar hidup akan terus berputar, aku yang akan semakin dewasa dengan masalah-masalah yang harus aku hadapi dan tidak terus-meneruh menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu pernah mengatakan bahwa aku anak yang permberani dan hebat, kamu juga terus-menerus memberikan sebuah dukungan saat aku mulai putus asa.

Baiklah, selesai sudah part kecil perjalananku dengan temanku. Aku kembali tersadar dengan sosok bahagia dihadapanku saat ini. di halte bus yang aku tunggu kedatangan supir bus beserta penumpangnya.

Kedua langkah itu menyusuri jalan membelah hujan yang sudah semakin deras di malam yang hampir sirna berganti terang. Katanya, ’masuk akal kah kita memulai segalanya tanpa harus merasa fana?’. Aku melihat semuanya dengan kesendirian. Aku lupa jika aku juga sedang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Aku menatapi hujan, menyesali langkah panjang dan menunggu tanpa arti. Aku membuang segala jenis lara dan tersenyum melanjutkan langkah pulang dan menaiki bus yang sudah lama berhenti.

Kota ini semestinya hilang dari semua yang pernah aku rasakan. Sudah seharusnya aku sadar bahwa yang aku tunggu semestinya diikhlaskan. Aku bahagia, kita pernah bahagia. Aku janji, aku akan menyambutmu lagi dengan bunga favorit disamping gundukan rumputmu dan bercerita banyak hal.