Kelelahan

Coba bayangkan, bagaimana jika akhirnya kita berpisah?

Apa yang akan kamu rasakan dan apa yang akan aku rasakan. Jangan tanyakan itu padaku, karena jawabannya kamu pasti akan tahu. Tentu saja aku akan sangat sedih dengan semua yang sudah-sudah. Dengan semua yang aku lewati sendirian ataupun bersama. 

Suatu hari aku teringat hal itu kembali. Bertanya pada diriku sendiri yang sedang terjaga, 'mengapa?' gumamku. Tidak ada jawaban pasti yang aku temui hari itu. Hanya ada di kamu yang saat itu sedang mencoba menyeberangi pulau mimpi yang seakan jadi kenyataan. Aku tersentak mengingat itu. Perlahan aku usap dahiku yang penuh keringat, bercermin dan menemui sosokku ternyata tidak terlalu meyakinkan.

Saat ini kesepian terdengar nyaring ditelingaku. Di sebuah kotak kecil putih aku memutari dengan mencoret-coret kanvas kecil, berharap ada tumpahan warna yang cocok denganmu. Aku kembali teringat di ruangan itu, menyusup seperti seorang penjahat, aku hampir enggan bersumpah dan merasa bersalah. Saat inilah aku merasa bersalah sekaligus sedih karena aku sudah tahu apa yang tidak bisa kamu katakan padaku. Entah maksudmu agar aku tidak sedih atau aku memang diharuskan tidak tahu kebenarannya.

Hatiku bergejolak dan enggan mengatakan ini sebuah kesedihan. Sedikit menyakiti dibalik bisikan-bisikan saat aku terjaga. Aku menerimanya, tetap menerimamu sebagai obat agar aku tidak merasa kesepian di sini karena kamu salah satu hal berharga, namun rasanya sudah seperti kehilangan kamu yang berarti dihidupku.

Bisakah kamu jujur saat ini? Karena mungkin aku akan kelelahan menahan perasaan ini.