Aku merasakan diriku bukan dengan kumpulan perasaan-perasaan darimu yang menyenagkan. Apa yang kamu mau dariku? Apa yang kamu mau dari orang lain itu yang membuat aku merasa teramat kecewa. Masih aku simpan segala hal yang menyesakkan di dada, segala hal yang tidak tahu ujungnya kapan akan berakhir. Kamu masih jadi juara pertama yang aku mau dan aku susuri, setidaknya jika kamu tidak tahu hal ini, suatu hari semoga kamu baca, betapa aku sangat mencintaimu.

Kelelahan

Coba bayangkan, bagaimana jika akhirnya kita berpisah?

Apa yang akan kamu rasakan dan apa yang akan aku rasakan. Jangan tanyakan itu padaku, karena jawabannya kamu pasti akan tahu. Tentu saja aku akan sangat sedih dengan semua yang sudah-sudah. Dengan semua yang aku lewati sendirian ataupun bersama. 

Suatu hari aku teringat hal itu kembali. Bertanya pada diriku sendiri yang sedang terjaga, 'mengapa?' gumamku. Tidak ada jawaban pasti yang aku temui hari itu. Hanya ada di kamu yang saat itu sedang mencoba menyeberangi pulau mimpi yang seakan jadi kenyataan. Aku tersentak mengingat itu. Perlahan aku usap dahiku yang penuh keringat, bercermin dan menemui sosokku ternyata tidak terlalu meyakinkan.

Saat ini kesepian terdengar nyaring ditelingaku. Di sebuah kotak kecil putih aku memutari dengan mencoret-coret kanvas kecil, berharap ada tumpahan warna yang cocok denganmu. Aku kembali teringat di ruangan itu, menyusup seperti seorang penjahat, aku hampir enggan bersumpah dan merasa bersalah. Saat inilah aku merasa bersalah sekaligus sedih karena aku sudah tahu apa yang tidak bisa kamu katakan padaku. Entah maksudmu agar aku tidak sedih atau aku memang diharuskan tidak tahu kebenarannya.

Hatiku bergejolak dan enggan mengatakan ini sebuah kesedihan. Sedikit menyakiti dibalik bisikan-bisikan saat aku terjaga. Aku menerimanya, tetap menerimamu sebagai obat agar aku tidak merasa kesepian di sini karena kamu salah satu hal berharga, namun rasanya sudah seperti kehilangan kamu yang berarti dihidupku.

Bisakah kamu jujur saat ini? Karena mungkin aku akan kelelahan menahan perasaan ini.

Dia Lupa Bahwa Dia Juga Menunggu

Aku melihat sosok lelaki tua sendirian duduk termenung di pinggir jalan raya. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya sendu. Kulit matanya keriput dengan kantong mata yang sangat terlihat lelah. Dia memasukkan telapak tangan dikedua saku celana kain hitam, lalu menghela nafas panjang sembari menghitung lalu-lalang kendaraan. Matanya jelas menampilkan kecemasan dan rasa lelah, dia tetap menunggu sesuatu yang dia tunggu. Dia mulai merasa tubuhnya amat lelah, dia beranjak dari tempatnya dan mencari bangku panjang untuk merebahkan tubuh rapuhnya. Beberapa menit kemudian bus berhenti, sosok wanita tua membawa seikat bunga berwarna putih hendak turun dari pintu bus yang sudah terbuka lebar.

Aku tidak tau bungan apa yang dia bawa. Wanita tua itu terus melaju dengan langkah kecil seperti anak usia balita. Perlahan dia mendekat kepada lelaki tua yang merebahkan setengah bahunya di bangku taman. Wanita itu mengelus pundak dengan berucap ‘jika lelah mari pulang, aku akan menuangkan secangkir kopi dan mendengarkan musik hingga usai’. Lelaki tua itu menegakkan tubuh dan menatap dengan sebulir air hampir jatuh dari pelipisnya yang keriput.

Dilain sisi adalah aku. Seorang lelaki setengah dewasa yang terus mencoba untuk ceria di hadapan banyak orang yang melintasiku, berpapasan denganku dan bahkan beberapa menyapaku. Kamu tidak akan pernah tau lagi apa yang selama ini aku rasakan, jadi mari kita selesaikan sedikit part dalam hidupku. Bacalah atau mungkin dengarkan ini walau aku tau kamu tidak akan lagi bisa melakukan itu. Biarkan angis berhembus membawa ceritaku kepadamu jauh di sana.

Aku tinggal dengan seorang teman lamaku yang rumahnya cukup dekat denganku. Dia selalu mengatakan bahwa namanya adalah ‘Kesepian’, tapi dia tidak pernah mau dipanggil Kesepian jika bersama denganku. Usia kita hampir sama, hanya berbeda jarak tiga bulan lebih awal temanku ini lahir. Kita bukanlah teman yang setiap harinya selalu bersama, kita memilih untuk berjalan saling berlawanan arah. Letak rumah, tempat sekolah, tempat mengaji dan masih banyak lagi hal yang saling berlawanan arah. Tapi kita punya tempat yang selalu jadi tujuan bersama untuk menceritakan perjalanan sehari-hari setelah melewati hari lelah dalam seminggu. Iya. Lapangan sepeda yang kita buat sendiri atas izin mendiang nenekku.

Setiap satu bulan sekali aku pulang ke halaman rumah masa kecilku, mengingat kembali kejadian-kejadian lucu yang pernah aku dan temanku lakukan setiap seminggu sekali. Baru saja tadi aku berkunjung ke halaman rumahku dan sekarang aku berada diperjalanan pulang ke rumah dewasaku. Rumah dengan banyak sekali problematika, kelelahan, kesedihan, kerinduan dan kesepian. Rasanya aku masih ingin berlama-lama di sini, walaupun ada yang sudah hilang di sini. Sesuatu yang seharusnya bersamaku dan tidak berlawanan arah lagi. Tentu saja kenangan tentang perasaan yang tidak pernah usai. Kini yang bernama ‘Kesepian’ bukan lagi kamu, tapi diriku sendiri. Kalau kamu di sini, kamu pasti akan tertawa melihat aku seringkali menangis diam seperti ini. Cengeng. Tapi, memang seperti inilah keadaanku yang sudah sepenuhnya dewasa dan kamu dengan cepatnya meninggalkan aku sendiri dipermainkan rintik hujan.

Bulir hujan semakin lama semakin membesar dan terasa sakit saat jatuh mengeroyok kepala dan kulit tubuh. Aku masih di sini, dihalte bus yang atapnya rusak. Orang-orang tidak sudi berada duduk di halte yang aku tempati, mereka terlalu membenci hujan rupanya. Lagi-lagi kalau kamu di sini pasti akan sangat sedih, bukan karena atap halte jebol, tapi karena orang-orang menjauhiku tanpa mengajakku berteduh di halte sebelah yang atapnya normal. Ahh, rasanya aku ingin pulang lagi di tahun-tahun kita bertemu. Aku sadar hidup akan terus berputar, aku yang akan semakin dewasa dengan masalah-masalah yang harus aku hadapi dan tidak terus-meneruh menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu pernah mengatakan bahwa aku anak yang permberani dan hebat, kamu juga terus-menerus memberikan sebuah dukungan saat aku mulai putus asa.

Baiklah, selesai sudah part kecil perjalananku dengan temanku. Aku kembali tersadar dengan sosok bahagia dihadapanku saat ini. di halte bus yang aku tunggu kedatangan supir bus beserta penumpangnya.

Kedua langkah itu menyusuri jalan membelah hujan yang sudah semakin deras di malam yang hampir sirna berganti terang. Katanya, ’masuk akal kah kita memulai segalanya tanpa harus merasa fana?’. Aku melihat semuanya dengan kesendirian. Aku lupa jika aku juga sedang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Aku menatapi hujan, menyesali langkah panjang dan menunggu tanpa arti. Aku membuang segala jenis lara dan tersenyum melanjutkan langkah pulang dan menaiki bus yang sudah lama berhenti.

Kota ini semestinya hilang dari semua yang pernah aku rasakan. Sudah seharusnya aku sadar bahwa yang aku tunggu semestinya diikhlaskan. Aku bahagia, kita pernah bahagia. Aku janji, aku akan menyambutmu lagi dengan bunga favorit disamping gundukan rumputmu dan bercerita banyak hal.

Bagian Perjalanan 2

        Gimana kepalamu? Masih sakitkah? Demi apa kamu bilang tidak kenapa-napa cuma untuk menutupi rasa senang bisa bersorak ria menonton Festival Musik bersamaku. Raut wajahmu sudah sangat kesal dan marah dengan penonton belakang yang melempar sebotol air mineral yang masih utuh. 

        Malam itu adalah malam yang sangat menakjubkan untukku. Untuk pertama kalinya aku bisa menonton acara musik secara Live "Fourtwnty" bersama kamu dan sepasang teman SMK mu yang pernah kamu ceritakan bahwa dia adalah sahabat baikmu, kemanapun kamu berada pasti ada dia.

        Ini adalah salah satu List yang harus kita ceklis. Masih ada banyak ya perjalanan yang harus kita lalui, tapi pelan-pelan dulu, nikmati setiap keluh kesah ini. Tidak harus bersama karena kita punya cara dan jalan masing-masing. Tapi kalau kita bisa melewati dan melakukannya bersama, kenapa enggak kan?

        Semoga kita senantiasa bahagia bersama dengan apa yang kita miliki dulu, sekarang dan nanti yang akan datang.

Bagian Perjalanan 1

Jika dia sudah selesai, aku masih harus menyusuri ini sendiri. Memikirkan kembali kenapa harus terlambat sejauh ini dari dia dan semua orang.

Mari Tidak Terlalu Sering Menyapa

    Jika kita terlahir kembali, mari tidak melakukan hal seperti ini lagi, mari tidak terlalu sering menyapa ataupun bertemu. mari tidak terlalu berharap banyak dan mari tidak membuat banyak obrolan dan janji. Jadi meski kita berpisah, kita bisa saling melepas tanpa memendam banyak luka. Aku jadikan kenangan baik.

    Sekarang aku tau, cinta yang terlalu dalam itu tidak akan menjadi baik, itu akan menjadi luka. Seperti ini jawaban darimu. 

    Mari bernostalgia dimasa lalu kita, walaupun masa yang aku buat sendirian. Meski banyak waktu berlalu dan kita melupakan satu sama lain, kumohon jadilah lebih bahagia dari aku, dari apa yang sudah kamu punya saat ini.

    Andai aku bisa mengatakan ini adalah perasaan cinta, meski kemudian aku tidak tau jawabannya darimu. Setidaknya sekarang aku tau, bahwa perasaan yang terlalu dalam akan membawa akhir yang menyedihkan.

    Aku mendoakanmu dengan cinta selanjutnya.

Bangkunya dan Teman-Teman Baikku

    Di mana buku itu? aku mencarinya di setiap sudut kamarku tetapi tidak pernah aku temui. Siang ini aku letih keterlaluan, di sudut bibirku ada sedikit bercak merah karena terus aku gores dengan kukuku yang belum aku potong minggu ini. Dikeramaian yang ada aku selalu merasa segala ruang hampa, menikam aku dan membuang aku dari kehangatan Kota yang tidak ingin aku tinggalkan. Barangkali ada tempat yang ramah untuk menampung semua keluh dan sedihku itu adalah temanku. Di tempat yang jauh aku bisa merasakan rumah yang benar-benar bisa jadi tempat aku pulang. kehilangan rumah bukan keinginan semua orang, satu cara yang bisa aku lakukan hanyalah menutup mata dan membiarkan semua menari seenaknya dikepalaku.

    Tidak ada tempat yang lebih baik untuk aku menunjukkan perasaan kecuali pada seorang laki-laki yang aku kenal. punggung yang bisa aku lihat disepanjang perjalanan yang belum selesai. Aku ingin itu benar, walau aku tidak tau apa yang selanjutnya dia pikirkan.

    Hari setelah pulang sekolah, aku mengamati lama bangku itu, di dalam kelas lemon kita. Bangku yang penghuninya sudah pulang bersama seorang teman yang dulu sangat akrab denganku. Aku bingung bagaimana caranya agar suatu hubungan yang sudah lama retak bisa pulih kembali. Hari demi hari aku menghitung dan bertambah pula rasa bersalahku saat aku menatap laki-laki itu. Matanya selalu membuatku merasa gugup dan sedih, bagaimana tidak, dia seorang bagian dari teman akrabku yang sudah tidak aku sapa.

    Ini adalah bagian perjalanan, hari-hari sekolahku yang sangat berat dan menyenangkan di bangku SMP. Aku bertemu orang-orang baik yang mau menerima semua kekurangan dan kelebihanku, belajar memahami kehilangan dan menemukan kembali, bertemu seorang laki-laki yang bertahun-tahun namanya aku istimewakan dan kenangan-kenangan yang tidak bisa lagi aku ulang. Tapi kami selalu ingat dan bersama walaupun jarang. Kami menyempatkan diri untuk merawat hubungan pertemanan, karena mereka adalah orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku.

    Mari kita lebih sering bertemu dan bercerita banyak hal hingga tua, hingga satu-persatu dari kita menikah dan memiliki keluarga baru. Hidup yang terus berjalan harus terus berjalan baik untuk mereka semua, jangan seperti aku.

    

Perasaan

    perasaan ini aku bawa kemanapun aku pergi, sudah lama. Kau bertemu banyak orang nantinya, mengenal salah satu orang yang baik dan aku mungkin juga. Tidak peduli siapa bersamamu, tapi terkadang juga rasa penasaran lebih besar daripada apapun. Aku tunggu terus ya. 

Kabar Awe

    Halo Awe, apakabar? Gimana sekolah di Kalibaru, seru gak? Sebenarnya aku ingin banyak bertanya padamu, juga sepupumu itu, tapi aku gak tau musti gimana. Rasanya seperti baru kemarin SMP tapi sudah selesai aja. Gimana ya caranya akrab lagi denganmu? Aku punya teman-teman baru di SMK ini tapi selalu kepikiran kamu. Semoga kamu dapat teman baik ya.

Kado dan Surat

    Kuno ya teman-temanku ini. Aku pun iya. Gelang yang jadi rebutan antara aku dan Riris jadi bahan tertawaan mereka, katanya "warnanya biru makanya jadi rebutan". Padahal aku tau betul warna kesukaan Riris tuh bukan biru, tapi merah. Setidaknya aku menang.

    Tadi aku menyimpan surat dari teman-temanku di kaleng yang aku tempel kertas gambar, surat dari Ira, Cicik, Riris, Beti dan ada juga surat menyebalkan dari Diah. Ira memberikan kado kalung lumba-lumba jadi aku berikan gelang kupu-kupu warna coklat. Kita saling tukar dan hanya kita berdua, mungkin Ira itu berbeda. 

    Ira bilang dia minta doa dariku agar lolos masuk di MAN  Srono, ya tentu saja bukan hanya Ira tapi Riris dan Cicik juga daftar lewat jalur undangan pakai nilai rapot. Aku antara harus sedih dan senang, karena pasti kita akan beda sekolah, tapi yaudah gak masalah. Semoga dapat yang terbaik untuk mereka:)

    Ira bilang akan coba hubungi aku pakai E-mail saat SMA nanti, iya tentu saja itu ide bagus, karena gak mungkin ya kan kita tetap kirim surat seperti ini. Ira benar-benar tau ya aku tadi lagi sedih, dia gak berhenti memuji aku karena aku mendapat nilai bagus mata pelajaran bahasa Indonesia. 

    Ira juga cerita orang yang dia suka tapi dia malu untuk cerita, hehe sama sih aku juga malu mau cerita bahkan ke diri aku sendiri. Orang yang aku sukai aja tiap hari ketemu di kelas dan selalu minjam pulpenku.